Obat

Hampir semua manusia di dunia ini pasti pernah akrab dengan obat. Baik itu obat modern atau tradisional, ataupun obat jasmani atau rohani. Intinya, saya adalah salah seorang yang akrab dengan obat (hlo…?)

Waktu kecil, saya termasuk anak yang cukup sering menderita sakit. Mulai batuk pilek, amandel, radang tenggorokan, sampe yang terakhir tipus. Segala macam obatpun sudah pernah saya coba tenggak. Mulai sirup, pil dan yang terakhir suntik (yang ini amit2 jangan sampai lagi). Paling enggak saya cukup fasih untuk minum obat. Bahkan kemampuan minum obat dalam bentuk pil atau kapsul cukup mumpuni. Buktinya, saya bisa minum obat tanpa aer. Eitttsss… jangan pada ketawa dulu en bilang, ah semua orang juga bisa. Suami saya termasuk orang yang enggak bisa minum obat yag berbentuk padat.

Saya taunya waktu kita masih pacaran. Waktu sakit saya tau dia bingung cari pisang buat sekedar minum obat. Itu bener-bener bikin saya ketawa ngakak, sementara suami saya merengut setengah mati. Saya tau di dalam hatinya yang paling dalam dia berteriak kencang sama saya, “LIAT AJA NANTI!!!!”. Sayangnya, dia berteriak dalam hati, jadi sekeras apapun teriaknya, saya waktu itu nggak denger dan tetap tertawa.

Tapi ketawa saya terbukti membawa kebaikan. Sekarang suami saya sudah bisa minum obat dengan media air. Ya… tak selamanya mengece itu berakibat buruk toh? Mungkin awalnya suami saya setengah mati menelannya, tapi sekarang saya kira dia sudah cukup expert.

Yayaya… semua kesombongan juga punya batas. Terbukti saya paling anti sama obat yang lewat media jarum suntik. Buktinya bisa di baca di cerita saya yang ini. Biarpun suami saya mengece ketakutan saya terhdap jarum suntik, tapi tetap itu menjadi momok terbesar saya. Ya itu juga membuktikan kadang metode mengece juga tidak berhasil.

Obat juga gak selalu untuk sakit secara fisik saja. Sakit secara jiwa juga butuh obat. Ya walaupun obatnya juga bukan obat yang terlihat secara fisik. Saya masih ingat ketika hati saya tersakiti dulu. Butuh waktu lama untuk menyembuhkannya. Banyak yang bilang, itu karena hati yang sakit butuh ‘waktu’ sebagai obatnya. Tapi menurut saya, waktu saja enggak cukup. Akan butuh ‘waktu’ yang sangat amat lama untuk bisa menerima semua itu.harus ada satu obat lagi yang saya miliki,ikhlas. Obat yang satu ini apotekernya harus diri sendiri dan dosisnya tergantung dari masing-masing kemampuan apoteker. Bedanya obat yang satu ini sama obat yang laen yang dibikin apotik atas resep dokter atau tidak ada di dosisnya. Obat laen dosisnya kalau bisa jangan terlalu tinggi atau berbahaya buat tubuh. Tapi obat ikhlas ini, semakin tinggi dosisnya semakin baik untuk tubuh.

Tapi, tentu aja, untuk mnjadi ikhlas butuh kesiapan mental yang amat sangat (terutama saya). Butuh waktu untuk berfikir, ‘ya itu memang bukan rejeki saya’, ‘ya dia memang bukan jodoh saya’, ‘ya mungkin saya harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan nilai lebih baik’, dan ‘ya-ya-ya’ yang lain. Tapi, sepahit apapun obat tentu harus diminum untuk kesembuhan tho.

Saya cuma bisa berharap, semoga saya bisa menjadi apoteker yang handal untuk obat yang satu itu. Saya kira itu juga jadi harapan semua orang. Belajar jadi satu-satunya cara untuk bisa memahami itu semua. Termasuk belajar menerima kenyataan sepahit apapun itu. Inilah yang mebuat saya juga belajar untuk mengajari anak saya mau menelan obat meskipun pahit. Semangat ya nak…hohohohoho….

 

About Rike Puspitasari Swasono

cewek yang cuma satu-satunya di dunia ini (berhubung ga ada kembarannya!). yang jelas suka banget nulis segala sesatu yang buatnya menarik(biar orang lain nganggep gak!).

Posted on 4 Desember 2011, in Mom Must Know. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: