Monthly Archives: Desember 2011

surat cinta buat suami (memperingati hari jadian)

masih inget nggak saat awal pertama kali kita ketemu?
aku lari-lari masuk keruangan kelas gara-gara telat
berharap gak ada yang tau kedatanganku saat itu
tapi ternyata karena cerobohku, aku malah bikin keributan
dan kamu yang sedang mengajar di depan teralihkan perhatiannya
saat itu, kita pertama kali saling menatap satu sama lain
mungkin saat itu pertama kalinya aku tertarik sama sayang

masi inget gak saat pertama kali kita ngobrol?
menemukan kesamaan kita di komik
ketawa bareng sambil cerita tentang semua banyolan yang kita punya
sedikit terbuka akan pikiran satu sama lain
mungkin saat itu pertama kalinya aku ngerasa nyaman sama sayang

masi inget nggak waktu kita pergi bareng?
naek vespa hitam punyamu
sesekali pernah mogok yang bikin ku ketawa keras
yang kadang lampunya mati trus harus ditabok supaya hidup
atau harus dimiringin ataupun ditendang supaya mau hidup mesinnya
dan sekarang vespa itu sudah berganti motor cowok
mungkin saat itu aku ngerasa sayang kamu jual vespa itu

masi inget gak waktu kita pertama kali nonton bareng?
kamu jemput aku, kita pergi ke bioskop
diskusi mau nonton apa
pilihan yang buruk buat aku yang akhirnya milih nonton horor
mungkin saat itu aku bener2 pengen sayang meluk aku ketika aku takut

awal jadian, aku ngerasa kamu mungkin bukan cowok romantis
tapi semakin lama, aku ngerasa kalo sayang adalah yang terbaik buat aku
pertengkaran pertama kita yang buat aku sedih
sedih karena sebenarnya jauh dilubuk hatiku aku takut kehilangan sayang
juga bisikan kata keramat darimu
yang buat aku serasa jatuh terbang bebas dari langit

tapi semua itu terasa bukan apa-apa
dibanding saat sayang mendengarkan keluh kesahku
memijat kakiku
mengelus perutku yang semakin membuncit
dan memberikan yang kuinginkan ketika ku hamil

semua itu juga terasa bukan apa-apa
dibanding saat sayang membesarkan hatiku
ketika ku kesakitan akan melahirkan
menemaniku dikala ku berusaha mengejan
dan mengecup keningku
sambil mengatakan terimakasih sudah memberikan putri untukmu

wajahmu yang bahagia
ketika menimang
mengganti popok
memandikan
atau sekedar bercanda dengan adara
membuatku merasa sebagai wanita yang paling beruntung

saat ini, bukan tampanmu
kekayaanmu
ataupun jabatanmu yang membuatku terpana
tapi cinta, kasih sayang dan tanggung jawabmu
yang membuat aku selalu merasa jatuh cinta lagi

MET HARI JADIAN CINTA
SUDAH 5 TAHUN LHO
SALAMAN YUUUKKK….

Iklan

Bebersih-Beberes-Menata

Tanaman memang harus dipangkas agar terus tumbuh. Dengan setiap guntingan saya yakin membuang bagian yang telah mati dan memberikan ruang untuk pertumbuhan yang baru. Memangkas secara berkala tidak hanya baik untuk tanaman tetapi juga merupakan irama alami bagi diri kita sendiri. Membersihkan jamban, mengatur kertas-kertas pribadi, membuang potongan kertas dan membersihkan kolam adalah berbabagai bentuk pemangkasan. Saya tahu bila cuca semakin hangat, secara alami orang-orang akan membuat komitmen ulang untuk menjalani hidup yang lebih aktif dan sehat, dimulai dari memangkas bagian-bagian dari kehidupan mereka yang tidak lagi membuat mereka berkembang. Pemangkasan internal ini membantu Anda menemukan lagi potensi Anda yang tersembunyi untuk terus bertumbuh (Hale Sofia Schatz, Eat Right in a Modern Life)

Saya baru membaca lagi buku yang diberikan suami saya dulu waktu kita masih pacaran. Dari judulnya saja sudah saya tahu kalau itu sindiran untuk berat badan saya yang membuat saya menjadi sumon alias super montok saat itu. Setelah lama buku itu tertumpuk nganggur di bawah tumpukan diktat-diktat kuliah saya, akhirnya saya putuskan untuk membacanya lagi. Baru membaca pembukaannya, saya udah menemukan paragrap yang menarik dan sepertinya sesuai dengan kehidupan saya saat ini.

Pemangkasan dalam kehidupan. Sebagian besar yang dimaksud emak Hale dalam kata pemangkasan ini adalah bersih-bersihnya, ato beres-beresnyaato lebih kerennya itu penataan ulang. Bersih-bersih ataupun beres-beres menurut saya buka cuma untuk rumah atau keadaan yang kotor dan enggak karuan aja. Kadangkala, kehidupan manusia menurut saya sering ruwet seiring dengan waktu dan bersih-beres itu sangat diperlukan.

Saya masih ingat bagaimana saya harus memangkas bagian dari kehidupan saya yang membuat saya tidak berkembang. Saya merasa saya pernah bepengalaman terperosok dalam kebodohan saya untuk menangisi beberapa hal yang kalo saya pikir sekarang itu sangat lucu. Seandainya saja saat itu saya tidak memangkas pemikiran-pemikiran ‘aneh’ saya, tentunya saya masih jadi manusia yang sama yang seperti dulu.

Penataan pemikiran, penataan kehidupan, ataupun penataan hati saya kira mutlak dibutuhkan manusia. Sulit pertamanya, tapi saya yakin dengan semakin dewasanya pemikiran seseorang, maka makin cepat dan mudah penataan itu. Bahkan, kadangkala penataan itu terjadi secara otomatis karena pengalaman-pengalaman dalam hidup. Masih ingat betapa noraknya saya waktu saya ngefans sama sesosok cowok kelas sebelah kala masih SMP. Hedeeewwww… kalo inget saat itu, pengen rasanya masuk ke dalem sumur trus bertapa disana (sapa tau bisa jadi sakti). Semua kenorakan itu terjadi karena saya belum mampu menata hati saya. Kalo sekarang ya jangan ditanya bagaimana expert-nya saya. Apa bisa bayangin nasib saya kalo mas norak sama cowok seperti dulu. Bisa-bisa suami saya ngamuk 7 hari 7 malem. Hehehehe….

Yah, sebagai ibu rumah tangga memang harus banyak belajar soal menata-bebersih-beberes ini. Semoga saya menjadi ahli di bidang ini. Doakan saya yaaa…. (halah!)

Rest In Piece Joni

Saat ini usia dara sudah 3 bulan. Kemarin saya dan suami seperti biasa merayakannya dengan kegiatan nyuci jibret dan becanda sama anaknya. Tanpa sadar saya ingat lagi dengan Joni, almarhum kucing kesayangan keluarga kami. Kucing yang usianya hampir 3 tahun itu sudah 3 bulan ini berpulang. Tampaknya keluarga kami juga belum bisa lupa.

Keluarga saya, terutama ibu saya dulunya paling tidak suka kalo anaknya memelihara kucing. Saya masih ingat, kucing-kucing yang selalu langganan dating ke rumah (dan saya anggap saya pelihara) berakhir di pasar atau di belakang rumah sakit. Tapi untuk Joni ini cukup berbeda. Sebetulnya Jonipun hampir bernasib sama. Tapi karena unsur kasihan bersama dan berjamaah jadinya dia jadi kucing keluarga kami.

Joni datang waktu dia masi sangat kecil dan mungkin baru berusia beberapa hari bersama ibu dan sodaranya (sodaranya sudah alm waktu mash kecil dan ibunya sudah berkelana lagi). Karena itu kami sekeluarga sepakat untuk men’sekolah’kan keluarga kecil itu nanti kalo sudah cukup besar. Tapi sejalan dengan waktu, akhirnya kami sekeluarga malah urung untuk membuangnya.

Kucing yang satu itu super manja terutama sama ibu saya. Waktu dia memecahkan kecap bumbu yang baru saja dibeli (bahkan segelnya belum terbuka), ibu saya malah lebih merisaukan kucing itu, waktu kakinya luka gara2 kena kawat, ibu saya dengan telaten merawatnya setiap hari. Bahkan kadang adik laki-laki saya bercanda menawarkan memasukkan Joni ke dalam KK.

Sebelumnya Joni juga cukup dekat dengan saya. Tempat favoritnya untuk tidur adalah pojokan kasur saya. Kadang juga dia naik ke paha saya untuk minta dimanja. Tapi semenjak saya hamil, joni menjadi larangan terbesar untuk saya. Apalagi saya ketika itu benar-benar merasa benci dengan Joni (mumpung karena bawaan bayi). Semua berbau Joni membuat saya merasa mual. Mulai bau pup-nya sampai bau makanannya. Itulah yang membuat saya menyesal.

Saya takut kalau janin dalam perut saya terganggu oleh penyakit yang mungkin saja ada pada kucing. Dan itu membuat saya menjadi sangat menjauhi Joni. Bahkan kadang mengelus saja saya takut. Saya pikir nanti ketika anak saya sudah lahir, saya bisa jadi teman terbaik untuk Joni lagi. Tapi semuanya terlambat menurut saya. Sekitar beberapa hari sejak Adara dating ke rumah, Joni tertabrak seorang cewe yang mengendarai motor (inilah penyebab saya sebel sekali sama cewek yang sok bisa mengendarai motor). Bahkan diakhir hayatnya dia sempat pulang ke rumah.

Sepupu saya mengatakan bahwa apabila kucing sudah menganggap pengasuhnya adalah keluarga yang dia sayang, maka sebelum mati dia akan pulang dulu ke rumah pengasuhnya. Kemudian pergi atau bersembunyi ketika kematiannya supaya pengasuhnya tidak tahu. Sebuah cara untuk berpamitan dan itu yang dilakukan Joni. Ibu saya berencana membawa Joni pergi ke dokter hewan ketika pulang dari bekerja, tapi semua terlambat. Joni sudah ditemukan tidak bernyawa bersembunyi di tumpukan sofa di kamarnya (sebenernya itu kamar untuk meletakkan sofa-sofa dan beberapa buku milik ibu saya yang akhirnya jadi kamar yang paling disukai Joni untuk tidur).

Saat ini Joni sudah terkubur di bawah ayunan di taman depan rumah ibu saya. Saya pikir itu tempat yang bagus. Joni dulu suka main di taman ketika kecil sampai besar. Awal-awalnya kami suka menangis atau kadang terpekur sedih kalau mengingat Joni. Mungkin itu juga kematian yang pertama kali adik saya lihat. Kadang kami juga masih suka membicarakannya. Tapi semua juga sudah terjadi. 3 bulan ini kami masih suka membicarakan Joni, tapi sudah tanpa air mata.

We always love you Jon….

BTW, teman saya menitipkan iklan untuk menjual kucing persianya. Jinak, dan umurnya sekitar 6 bulan (saya agak lupa). Bagi yang berminat silahkan menitip di komen bawah ini.

Obat

Hampir semua manusia di dunia ini pasti pernah akrab dengan obat. Baik itu obat modern atau tradisional, ataupun obat jasmani atau rohani. Intinya, saya adalah salah seorang yang akrab dengan obat (hlo…?)

Waktu kecil, saya termasuk anak yang cukup sering menderita sakit. Mulai batuk pilek, amandel, radang tenggorokan, sampe yang terakhir tipus. Segala macam obatpun sudah pernah saya coba tenggak. Mulai sirup, pil dan yang terakhir suntik (yang ini amit2 jangan sampai lagi). Paling enggak saya cukup fasih untuk minum obat. Bahkan kemampuan minum obat dalam bentuk pil atau kapsul cukup mumpuni. Buktinya, saya bisa minum obat tanpa aer. Eitttsss… jangan pada ketawa dulu en bilang, ah semua orang juga bisa. Suami saya termasuk orang yang enggak bisa minum obat yag berbentuk padat.

Saya taunya waktu kita masih pacaran. Waktu sakit saya tau dia bingung cari pisang buat sekedar minum obat. Itu bener-bener bikin saya ketawa ngakak, sementara suami saya merengut setengah mati. Saya tau di dalam hatinya yang paling dalam dia berteriak kencang sama saya, “LIAT AJA NANTI!!!!”. Sayangnya, dia berteriak dalam hati, jadi sekeras apapun teriaknya, saya waktu itu nggak denger dan tetap tertawa.

Tapi ketawa saya terbukti membawa kebaikan. Sekarang suami saya sudah bisa minum obat dengan media air. Ya… tak selamanya mengece itu berakibat buruk toh? Mungkin awalnya suami saya setengah mati menelannya, tapi sekarang saya kira dia sudah cukup expert.

Yayaya… semua kesombongan juga punya batas. Terbukti saya paling anti sama obat yang lewat media jarum suntik. Buktinya bisa di baca di cerita saya yang ini. Biarpun suami saya mengece ketakutan saya terhdap jarum suntik, tapi tetap itu menjadi momok terbesar saya. Ya itu juga membuktikan kadang metode mengece juga tidak berhasil.

Obat juga gak selalu untuk sakit secara fisik saja. Sakit secara jiwa juga butuh obat. Ya walaupun obatnya juga bukan obat yang terlihat secara fisik. Saya masih ingat ketika hati saya tersakiti dulu. Butuh waktu lama untuk menyembuhkannya. Banyak yang bilang, itu karena hati yang sakit butuh ‘waktu’ sebagai obatnya. Tapi menurut saya, waktu saja enggak cukup. Akan butuh ‘waktu’ yang sangat amat lama untuk bisa menerima semua itu.harus ada satu obat lagi yang saya miliki,ikhlas. Obat yang satu ini apotekernya harus diri sendiri dan dosisnya tergantung dari masing-masing kemampuan apoteker. Bedanya obat yang satu ini sama obat yang laen yang dibikin apotik atas resep dokter atau tidak ada di dosisnya. Obat laen dosisnya kalau bisa jangan terlalu tinggi atau berbahaya buat tubuh. Tapi obat ikhlas ini, semakin tinggi dosisnya semakin baik untuk tubuh.

Tapi, tentu aja, untuk mnjadi ikhlas butuh kesiapan mental yang amat sangat (terutama saya). Butuh waktu untuk berfikir, ‘ya itu memang bukan rejeki saya’, ‘ya dia memang bukan jodoh saya’, ‘ya mungkin saya harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan nilai lebih baik’, dan ‘ya-ya-ya’ yang lain. Tapi, sepahit apapun obat tentu harus diminum untuk kesembuhan tho.

Saya cuma bisa berharap, semoga saya bisa menjadi apoteker yang handal untuk obat yang satu itu. Saya kira itu juga jadi harapan semua orang. Belajar jadi satu-satunya cara untuk bisa memahami itu semua. Termasuk belajar menerima kenyataan sepahit apapun itu. Inilah yang mebuat saya juga belajar untuk mengajari anak saya mau menelan obat meskipun pahit. Semangat ya nak…hohohohoho….