Jarum Suntik

Dari jaman SD sampai sekarang menikah, yang namanya jarum suntik dah jadi musuh utama buat saya. Bedanya waktu masih SD masih lebih berani daripada sekarang. Penyebabnya, tentu aja karena gengsi saya yang begitu besar.

Jaman sekolah, saya terkenal sebagai cewek yang tomboy (bahkan waktu SMP saya pernah dipanggil Ranma). Imej yang begitu melekat kuat sampai-sampai membuat saya berani menghadapi jarum suntik waktu imunisasi. Padahal dalam hati saya berteriak-teriak minta tolong. Jaman SMP-pun saya cukup terselamatkan sama muka dokter yang ganteng. Sekarang saya cukup menyesal waktu inget saat itu. Kenapa gak sekalian pura-pura pingsan biar bisa deket-deket agak lama ( sifat ababil yang kumat).

Puncaknya saya begitu dekat dengan jarum suntik ketika masa-masa kehamilan. Ketika usia kadungan saya memasuki trimester akhir, penyakit tipus datang untuk silaturahmi. Penyakit yang membuat saya benar-benar menyesal membeli tahu goring yang dijajakan di bis. Sudah enggak enak, mahal, bikin penyakit lagi. Penyakit ini membuat saya demam hingga harus menginap di Rumah Sakit.

Masih teringat ketika jarum inpus ready untuk dimasukkan ke pembuluh darah saya. Ada sekitar 5 orang yang menahan saya supaya tidak berontak termasuk diantaranya suami saya. Saya masih ingat ancaman yang membuat saya ‘sedikit’ tenang saat itu ketika salah seorang suster (yang bagian mengeksekusi jarum inpus ke saya) bilang, “Kalau ibu enggak bisa diam, saya terpaksa harus menusuk lagi kalau jarum ini enggak pas masuknya”. Saya tidak berontak, tapi saya teriak super keras. Saya sangat yakin kalau orang-orang di luar mengira saya sedang melahirkan.

Setiap hari saya harus menghadapi jarum, mulai dari antibiotik, sampai mengambil darah. Dan setiap hari saya harus teriak kesakitan. Ketika tipus itu semakin parah, saya terpaksa dilarikan ke rumah sakit yang lebih besar. Parahnya lagi saya harus masuk ke ruang intensip dan berhadapan dengan dokter muda yang masih tidak bisa mengambil darah. Dan itu pertama kalinya saya marah sama dokter. Untungnya saya segera dipindahkan ke ruangan lain.

Untuk penyakit tipus ini saya harus mengunjungi RS sampai 2 kali dalam 1 bulan. Kalau dihitung, separuh bulan saya Cuma mendekam di kamar RS untuk terkapar dan menerima suntikan. Begitu pulang, saya benar-benar bersumpah untuk membenci tahu yang dijual di bis.

Saya pikir siksaan jarum suntik berakhir disitu saja, tapi itu semua ternyata salah. Saya tetap harus menerima suntika ketika akan melahirkan Adara. Karena air ketuban saya yang merembes keluar, saya harus segera melahirkan Adara. Benar-benar tanpa persiapan. Bahkan dokter kandungan saya sudah merencanakan untuk operasi. Saya harus masuk RS Bersalin dan siap untuk menerima jarum-jarum menancap lagi. Untungnya saya bisa melahirkan normal dan tidak ada masalah sehingga saya bisa cepat keluar dari RSB.

Sekarang saya harus menghadapi jarum suntik setiap bulan. Bukan untuk menerima suntikan tapi melihat si kecil disuntik. Yang rasanya sama seperti saya yang disuntik waktu melihat si kecil imunisasi. Namanya juga ibu-ibu….

 

Re Tea Time

re lemon tea time

About Rike Puspitasari Swasono

cewek yang cuma satu-satunya di dunia ini (berhubung ga ada kembarannya!). yang jelas suka banget nulis segala sesatu yang buatnya menarik(biar orang lain nganggep gak!).

Posted on 11 November 2011, in Just Share. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. waaaa…. saya juga paling benci jarum suntiiik😀

  1. Ping-balik: Obat « Rike Lemon Tea Time

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: